Senin, 05 Desember 2016

KEAMANAN INFORMASI PADA CV. CITRA MEGA PRATAMA




MAKALAH

 KEAMANAN INFORMASI PADA CV. CITRA MEGA PRATAMA
  





BAB I

PENDAHULUAN

    1. Latar Belakang
      Keamanan informasi ditujukan untuk mendapatkan kerahasiaan, ketersediaan, serta integritas pada semua sumber daya informasi perusahaan bukan hanya peranti keras dan data. Manajemen keamananinformasi terdiri atas perlindungan harian, yang disebut manajemen keamanan informasi (information security managemen) dan persiapan-persiapan operasional setelah suatu bencana, yang disebut dengan manajemen keberlangsungan bisnis (business continuity managemen).
      Dalam sebuah organisasi memiliki kebutuhan untuk menjaga agar sumber daya informasi tetap aman. Pada kalangan industri telah lama menyadari kebutuhan untuk menjaga keamanan dari para kriminal komputer dan sekarang pemerintah telah mempertinggi tingkat keamanan sebagai salah satu cara untuk memerangi terorisme, isu-isu utama mengenai keamanan versus ketersediaan serta keamanan versus hak pribadi harus diatasi.
                  Dua pendekatan dapat dilakukan untuk menyusun strategi-strategi Information Security management-ISM manajemen resiko dan kepatuhan tolak ukur. Perhatian akan ancaman dan resiko  berhubungan dengan pendekatan manajemen risiko. Ancaman dapat bersifat internal atau eksternal, tidak disengaja atau disengaja. Risiko dapat mencakup insiden pengungkapan,penggunaan, dan modifikasi yang tidak diotorisasi serta pencurian, penghancuran dan penolakan layanan. Dalam makalah ini, penulis akan memaparkan mengenai keamanan infomasi pada CV. Citra Mega Pratama.
      Manajemen keberlangsungan bisnis terdiri atas seperangkat subrencana untuk menjaga keamanan karyawan dan pekerjaan konstruksi pada CV. Citra Mega Pratama, yang memungkinkan keberlangsungan operasional dengan cara menyediakan fasilitas dan mengembangkan rencana kontinjensi baru tidak harus dari awal; beberapa model berbasis perangkat lunak tersedia, seperti halnya garis besar dan panduan dari pemerintah seperti program aplikasi LPSE.




    2. Rumusan Masalah
      Yang menjadi rumusan masalah dalam makalah keamanan informasi pada CV. Citra Mega Pratama ini ialah :

  1. Bagaimana kebutuhan organisasi akan keamanan dan pengendalian?
  2. Apa itu keamanan informasi?
  3. Bagaimana manajemen keamanan informasi?
  4. Apa yang dimaksud dengan ancaman dan apa saja jenis ancaman?
  5. Apa yang dimaksud dengan risiko dan bagaimana manajemen risiko?
  6. Bagaimana persoalan e-commerce?
  7. Bagaimana manajemen risiko dan kebijakan keamanan informasi?
  8. Bagaimana yang dimaksud dengan pengendalian dan jenis pengendalian?


    1. Tujuan Penulisan Makalah
      Adapun tujuan dari penulisan dari makalah ini adalah,antara lain :

  1. Untuk mengetahui kebutuhan organisasi akan keamanan dan pengendalian
  2. Untuk mengetahui apa itu keamanan informasi
  3. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan ancaman dan apa saja jenis ancaman
  4. Untuk mengetahui bagaimana persoalan e-commerce
  5. Untuk mengetahui bagaimana risiko dan kebijakan keamanan informasi
  6. Untuk mengetahui bagaimana yang dimaksud dengan pengendalian dan jenis pengendalian



    BAB II
    PEMBAHASAN
    PENGERTIAN KEAMANAN SISTEM INFORMASI, ANCAMAN DAN KELEMAHANNYA

    2.1 Pengertian Keamanan Informasi
     Keamanan informasi yang kita ketahui, selalu berkaitan dengan kata kunci yang dirujuk adalah pencegahan dari kemungkinan adanya virus, hacker, cracker dan lain-lain. Padahal masalah keamanan informasi biasanya akan berbicara mengenai kemungkinan adanya resiko yang muncul atas sistem tersebut. Sehingga pembicaraan tentang keamanan tersebut maka akan dibahas mengenai 2 masalah utama yaitu :
    1. Threats (Ancaman) dan
    2. Vulnerability (Kelemahan)
    Masalah tersebut pada gilirannya berdampak kepada 6 hal yang utama dalam sistem informasi yaitu :

  • Efektifitas
  • Efisiensi
  • Kerahaasiaan
  • Integritas
  • Keberadaan (availability)
  • Kepatuhan (compliance)
  • Keandalan (reliability)

    Untuk menjamin hal tersebut maka keamanan informasi baru dapat di kriteriakan dengan baik. Adapun kriteria yang perlu di perhatikan dalam masalah keamanan sistem informasi membutuhkan 10 domain keamanan yang perlu di perhatikan yaitu :
    1. Akses kontrol sistem yang digunakan
    2. Telekomunikasi dan jaringan yang dipakai
    3. Manajemen praktis yang di pakai
    4. Pengembangan sistem aplikasi yang digunakan
    5. Cryptographs yang diterapkan
    6. Arsitektur dari sistem informasi yang diterapkan
    7. Pengoperasian yang ada
    8. Busineess Continuity Plan (BCP) dan Disaster Recovery Plan (DRP)
    9. Kebutuhan Hukum, bentuk investigasi dan kode etik yang diterapkan
    10. Tata letak fisik dari sistem yang ada
    Tujuan Keamanan informasi untuk mencapai tiga tujuan utama yaitu:

    1. Kerahasiaan
      Perusahaan berusaha untuk melindungi data informasinya dari pengungkapan kepada orang-orang yang tidak berwenang.
    2. Ketersediaan
      Tujuan infrastruktur informasi perusahaan  adalah  menyediakan data dan informasi sedia bagi pihak-pihak yang memiliki wewenang untuk menggunakannya.
    3. Integritas
      Semua sistem informasi harus memberikan representasi akurat atas sistem fisik yang dipresentasikan.



2.2 Ancaman Keamanan Informasi

Ancaman keamanan informasi adalah orang, organisasi, mekanisme, atau peristiwa yang memiliki potensi untuk membahayakan sumber daya informasi perusahaan. Ancaman keamanan informasi juga merupakan aksi yang terjadi baik dari dalam sistem maupun dari luar sistem yang dapat mengganggu keseimbangan sistem informasi. Ancaman yang mungkin timbul dari kegiatan pengolahan informasi, yaitu sebagai berikut :

  1. Ancaman Internal
    Ancaman internal bukan hanya mencakup karyawan perusahaan, tetapi juga pekerja temporer, konsultan, kontraktor, bahkan mitra bisnis perusahaan tersebut.
  2. Ancaman Eksternal
    Misalnya perusahaan lain yang memiliki produk yang sama dengan produk perusahaan kita atau disebut juga pesaing usaha.

Jenis- Jenis Ancaman

Malicious software, atau malware terdiri atas program-program lengkap atau segmen-segmen kode yang dapat menyerang suatu system dan melakukan fungsi-fungsi yang tidak diharapkan oleh pemilik system. fungsi-fungsi tersebut dapat menghapus file atau sistem itu berhenti. Terdapat beberapa piranti lunak yang berbahaya yaitu: Virus, worm, Trojan horse, adware, spyware

Besar kecilnya suatu ancaman dari sumber ancaman yang teridentifikasi atau belum teridentifikasi dengan jelas tersebut, perlu di klasifikasikan secara matriks ancaman sehingga kemungkinan yang timbul dari ancaman tersebut dapat di minimalisir dengan pasti. Setiap ancaman tersebut memiliki probabilitas serangan yang beragam baik dapat terprediksi maupun tidak dapat terprediksikan seperti terjadinya gempa bumi yang mengakibatkan sistem informasi mengalami kegagalan pemakaian (malfunction).



2.3 Kelemahan Keamanan Informasi

Kelemahan keamanan Informasi adalah cacat atau kelemahan dari suatu sistem yang mungkin timbul pada saat mendesain, menetapkan prosedur, mengimplementasikan maupun kelemahan atas sistem kontrol yang ada sehingga memicu tindakan pelanggaran oleh pelaku yang mencoba menyusup terhadap sistem tersebut. Cacat sistem bisa terjadi pada prosedur, peralatan, maupun perangkat lunak yang dimiliki, contoh yang mungkin terjadi seperti : Seting firewall yang membuka telnet sehingga dapat diakses dari luar, atau Seting VPN yang tidak di ikuti oleh penerapan kerberos atau NAT.

Suatu pendekatan keamanan sistem informasi minimal menggunakan 3 pendekatan, yaitu :

  1. Pendekatan preventif yang bersifat mencegah dari kemungkinan terjadikan ancaman dan kelemahan
  2. Pendekatan detective yang bersifat mendeteksi dari adanya penyusupan dan proses yang mengubah sistem dari keadaan normal menjadi keadaan abnormal
  3. Pendekatan Corrective yang bersifat mengkoreksi keadaan sistem yang sudah tidak seimbang untuk dikembalikan dalam keadaan normal

Tindakan tersebutlah menjadikan bahwa keamanan sistem informasi tidak dilihat hanya dari kaca mata timbulnya serangan dari virus, mallware, spy ware dan masalah lain, akan tetapi dilihat dari berbagai segi sesuai dengan domain keamanan sistem itu sendiri.




2.4 Risiko Keamanan Informasi (Information Security Risk)

Didefinisikan sebagai potensi output yang tidak Diharapkan dari pelanggaran keamanan informasi oleh Ancaman keamanan informasi. Semua risiko mewakili tindakan yang tidak terotorisasi. Risiko-risiko seperti ini dibagi menjadi empat jenis yaitu:

  1. Interuption: ancaman terhadap availability, yaitu data dan informasi yang berada dalam system computer yang dirusak dan dibuang sehingga menjadi tidak ada atau menjadi tidak berguna.
  2. Interception: merupakan ancaman terhadap secrey, yaitu orang yang tidak berhak mendapatkan akses informasi dari dalam system computer.
  3. Modification: merupakan ancaman terhadap integritas, yaitu orang yang tidak berhak, tidak hanya berhasil mendapatkan akses, melainkan juga dapat melakukan pengubahan terhadap informasi.
  4. Fabrication: adanya orang yang tidak berwenang, meniru atau memalsukan suatu objek ke dalam sistem.



    1. Macam-macam Pengendalian

  1. Pengendalian Teknis
    Pengendalian teknis adalah pengendalian yang menjadi satu di dalam system dan dibuat oleh para penyususn system selama masa siklus penyusunan system.  Dilakukan melalui tiga tahap:

  1. Identifikasi Pengguna.
    Memberikan informasi yang mereka ketahui seperti kata sandi dan nomor telepon.nomor telepon.
  2. Otentikasi Pengguna.
    Pengguna memverivikasi hak akses dengan cara memberikan sesuatu yang mereka miliki, seperti chip identifikasi atau tanda tertentu.
  3. Otorisasi Pengguna.
    Pengguna dapat mendapatkan wewenang untuk memasuki tingkat penggunaan tertentu.
    Setelah pengguna memenuhi tiga tahap tersebut, mereka dapat menggunakan sumber daya informasi yang terdapat di dalam batasan file akses. Batasan file akses tersebut, antara lain :



  • Sistem Deteksi Gangguan
    Logika dasar dari sistem deteksi gangguan adalah mengenali upaya pelanggaran keamanan sebelum memiliki kesempatan untuk melakukan  perusakan.
  • Firewall
    Suatu Filter yang membatasi aliran data antara titik-titik pada suatu jaringan-biasanya antara jaringan internal perusahaan dan Internet.
    Berfungsi sebagai:        

a.    Penyaring aliran data

b.    Penghalang yang membatasi aliran data ke dan dari perusahaan tersebut dan internet.



  1. Pengendalian Kriptografis
    Merupakan penggunaan kode yang menggunakan proses-proses matematika. Meningkatkan keamanan data dengan cara menyamarkan data dalam bentuk yang tidak dapat dibaca. Berfungsi untuk melindungi data dan informasi yang tersimpan dan ditransmisikan, dari pengungkapan yang tidak terotorisasi.
    Kriptografi  terbagi menjadi:

  1. Kriptografi Simetris : dalam kriptografi ini, kunci enkripsi sama dengan kunci dekripsi.
  2. Kriptografi Asimetris : dalam kriptografi kunci enkripsi tidak sama dengan kunci dekripsi.
  3. Kriptografi Hybrid
  4. Menggabungkan antara kriptografi simetris dan Asimetris, sehingga mendapatkan kelebihan dari dua metode tersebut.


  1. Pengendalian Fisik
    Peringatan yang pertama terhadap gangguan yang tidak terotorisasi adalah mengunci pintu ruangan computer.Perkembangan seterusnya menghasilkan kunci-kunci yang lebih canggih, yang dibuka dengan cetakan telapak tangan dan cetakan suara, serta kamera pengintai dan alat penjaga keamanan.

  2. Pengendalian Formal
    Pengendalian formal mencakup penentuan cara berperilaku,dokumentasi prosedur dan praktik yang diharapkan, dan pengawasan serta pencegahan perilaku yang berbeda dari panduan yang berlaku. Pengendalian ini bersifat formal karena manajemen menghabiskan banyak waktu untuk menyusunnya, mendokumentasikannya dalam bentuk tulisan, dan diharapkan untuk berlaku dalam jangka panjang.

  3. Pengendalian Informal
    Pengendalian informal mencakup program-program pelatihan dan edukasi serta program pembangunan manajemen.Pengendalian ini ditunjukan untuk menjaga agar para karyawan perusahaan memahami serta mendukung program keamanan tersebut.

    2.6  Pentingnya Keamanan sistem
    Sistem Informasi diperlukan karena:

    1. Teknologi Komunikasi Modern yang membawa beragam dinamika dari dunia nyata ke dunia virtual
    2. Kurangnya Keterampilan Pengamanan yang dimiliki oleh Pemakai
    3. Untuk menjaga objek kepemilikan dari informasi yang memiliki nilai ekonomis.

      2.7     Dukungan Pemerintah Dan Industri
      Beberapa organisasi pemerintah dan internasional telah menentukan standar-standar yang ditunjukan untuk menjadi panduan bagi organisasi yang ingin mendapatkan keamanan informasi.Beberapa standar ini berbentuk tolak ukur, yang telah diidentifikasisebelumnya sebagai penyedia strategi alternative untuk manajemen resiko. Beberapa pihak penentu standar menggunakan istilah baseline(dasar) dan bukannya benchmark (tolak ukur). Organisasi tidak diwajibkan mengikuti standar ini. Namun, standar ini ditunjukan untuk memberikan bantuan kepada perusahaan dalam menentukan tingkat target keamanan.

      2.8    Manajemen Keberlangsungan Bisnis
      Manajemen keberlangsungan bisnis (business continuity management-BCM) adalah aktivitas yang ditujukan untuk menentukan operasional setelah terjadi gangguan sistem informasi.
      Subrencana yang umum mencakup:

  1. Rencana darurat (emergency plan):  terdiri dari cara-cara yang akan menjaga keamanan karyawan jika bencana terjadi. Co: Alarm bencana, prosedur evakuasi
  2. Rencana cadangan :  menyediakan fasilitas computer cadangan yang bisa dipergunakan apabila fasilitas computer yang biasa hancur atau rusak hingga tidak bisa digunakan.
  3. Rencana catatan penting (vital records plan) : merupakan dokumen kertas, microform, dan media penyimpanan optis dan magnetis yang penting untuk meneruskan bisnis perusahaan.

    2.9 Kebijakan Keamanan Informasi
    Suatu kebijakan keamanan harus diterapkan untuk mengarahkan keseluruhan program. Perusahaan dapat menerapkan keamanan dengan pendekatan yang bertahap, diantaranya:
    Fase 1:Inisiasi Proyek. Membentuk sebuah tim untuk mengawas proyek kebijakan keamanan tersebut.
    Fase 2:Penyusunan Kebijakan. Berkonsultasi dengan semua pihak yang berminat dan terpengaruh.
    Fase 3:Konsultasi dan persetujuan.Berkonsultasi dengan manajemen untuk mendapatkan pandangan mengenai berbagai persyaratan kebijakan.
    Fase 4:Kesadaran dan edukasi.Melaksanakan program pelatihan kesadaran dan edukasi dalam unit-unit organisasi.
    Fase 5:Penyebarluasan Kebijakan. Kebijakan ini disebarluaskan ke seluruh unit organisasi dimana kebijakan tersebut dapat diterapkan.



BAB III

PENUTUP



Kesimpulan

Dapat disimpulkan bahwa Keamanan informasi (information security) digunakan untuk mendeskripsikan perlindungan baik peralatan computer, non komputer, fasilitas, data, dan informasi dari penyalahgunaan pihak-pihak yang tidak berwenang. Keamanan informasi ditujukan untuk mencapai tiga tujuan utama yaitu: kerahasiaan, ketersediaan, dan integritas.

Sedangkan Ancaman keamanan sistem informasi adalah orang, organisasi, mekanisme, atau peristiwa yang memiliki potensi untuk membahayakan sumber daya informasi perusahaan. Ancaman itu terdiri dari ancaman internal dan eksternal. Resiko keamanan informasi dapat Didefinisikan sebagai potensi output yang tidak Diharapkan dari pelanggaran keamanan informasi oleh Ancaman keamanan informasi. Semua risiko mewakili tindakan yang tidak terotorisasi. Untuk mengendalikan Ancaman serta risiko keamanan informasi itu dapat dilakukan dengan berbagai pengendalian yaitu: pengendalian teknis, kriptografis, fisik, formal dan informal.





DAFTAR PUSTAKA





http://achmadzaidun.blogspot.co.id/2013/12/keamanan-informasi.html



Raymond Mcleod, Jr., George P. Schell, 2009,  Sistem Informasi Manajemen, Jakarta: Salemba Empat.


Dhillon Gurprett, Steve Moores. “Computer Crimes: Theorizing About the Enemy Within,” Computer & Security 20 (8) ( 1 Desember 2001)



Dhillon Gurprett, Steve Moores. “Computer Crimes: Theorizing About the Enemy Within,” Computer & Security 20 (8) ( 1 Desember 2001), hal 715-723

Raymond McLeod, Jr., George P. Schell, Op., Cit., hal., 272-274


Raymond McLeod, Jr., George P. Schell, Op., Cit., hal., 280-284



Tidak ada komentar:

Posting Komentar